Modal Pintar Saja Tidak Cukup
Prinsip Kerja Dahlan Iskan
Ada nasihat Dahlan Iskan yang
menurut saya aneh, tetapi ada benarnya juga. “Kalau merekrut karyawan,
perhitungkan dengan seksama komposisinya. Sebaiknya jangan hanya yang
pintar yang diterima,” kata Dahlan.
Nasihat itu menurut saya aneh, karena semua perusahaan membutuhkan SDM
yang pintar. Nah, kepintaran itu diukur dengan syarat indeks prestasi
pelamar, yang dicantumkan dalam iklan lowongan.
“Jadi, apa kita
harus menerima juga karyawan yang indeks prestasinya rendah juga?”
tanya saya. Dahlan tertawa mendengar pertanyaan saya.
Sejurus
kemudian, Dahlan menjelaskan mengapa perusahaan tidak boleh merekrut
hanya karyawan yang pintar. Menurut Dahlan, perusahaan membutuhkan
karyawan yang pintar dan memiliki sikap kerja, sesuai dengan karakter
pekerjaannya.
Setiap pekerjaan membutuhkan orang dengan sikap
kerja yang spesifik. “Pekerjaan di keuangan akan bagus kalau
dikendalikan orang-orang yang punya sikap kerja cerewet,” kata Dahlan.
“Di luar pekerjaan, belum tentu dia cerewet. Tetapi dalam setiap analisa
biaya, dia cerewet,” lanjut Dahlan.
Kenapa butuh yang cerewet?
“Karena kalau tidak bersika[ cerewet, semua permintaan biaya akan
disetujui tanpa bertanya. Kalau dia cerewet, pasti yang mengajukan harus
betul-betul bisa menjelaskan. Kalau tidak bisa menjelaskan, pengajuan
akan dicoret,” kata Dahlan.
“Selain sikap cerewet, orang keuangan harus bersikap berani. Terutama, berani menolak bon pimpinan,” lanjut Dahlan.
Kalau untuk akunting, Dahlan menyarankan merekrut orang yang sikapnya
teliti dan tidak hobi jalan-jalan. Sebab, akunting membutuhkan
konsentrasi yang tinggi terhadap data angka dan riwayat transaksi.
Petugas inkaso atau kolektor syaratnya lain lagi. “Kolektor butuh orang
yang sikapnya rajin tetapi ndablek alias muka tembok. Kolektor kadang
harus bekerja menagih di satu orang setiap hari, sampai dia bayar. Jadi
perlu orang yang ndablek,” kata Dahlan.
“Jadi, itu maksudnya
kita tidak boleh merekrut yang pintar saja?” tanya saya. “Dalam sebuah
perusahaan, ada yang tugasnya berpikir. Ada juga yang tugasnya bekerja.
Kalau semuanya pintar, nanti hasilnya hanya diskusi saja, tidak ada yang
bekerja,” kata Dahlan sembari tertawa.
Bagaimana menemukan
orang-orang dengan sikap yang sesuai kebutuhan pekerjaannya? “Pendekatan
indeks prestasi boleh-boleh saja. Tapi jangan hanya karena parameter
itu saja. Selama masa percobaan, pelajari sikap karyawan itu. Kemudian,
analisa apakah sikap itu cocok dengan pekerjaannya,” kata Dahlan.
Ketika saya menerbitkan harian Indo Pos di Jakarta tahun 2003, Dahlan
mendampingi saya dan kawan-kawan selama 1 bulan penuh. Selama 1 bulan
itu, dia menemukan kejanggalan pada satu orang karyawan saya yang
bertugas di bagian pemasaran.
Suatu pagi, sekitar pukul 09.00,
karyawan tersebut dilihatnya sedang mengetik di komputer ruangan kerja.
Bajunya rapi dan necis. Besok paginya, pada jam yang sama, Dahlan
melihat karyawan itu dengan dandanan yang necis juga.
Hari
ketiga, Dahlan memerintahkan saya agar menarik komputer karyawan itu.
Setelah saya tarik, karyawan tersebut ternyata masih datang pada jam
yang sama, dengan dandanan yang sama. Tidak ada komputer, karyawan itu
sibuk menulis-nulis di bukunya.
Hari keempat, Dahlan meminta
saya menarik meja dan kursinya. Pukul 09.00, karyawan itu bingung karena
ruang kerjanya tidak ada meja, kursi dan komputer. Tapi dia masih terus
berada di ruangan itu, walau duduk di lantai.
“Saya yakin,
karyawan itu tidak pernah tahu di mana alamat agen. Mestinya, karyawan
pemasaran koran bekerja sejak tengah malam sampai pagi. Tempat kerjanya
dari agen ke agen, dari lapak ke lapak. Dari pengecer ke pengecer. Dari
loper ke loper. Coba kita tes,” kata Dahlan.
Setelah saya
panggil, Dahlan kemudian memberi bertanya. “Anda pemasaran di wilayah
mana?” tanya Dahlan. “Pluit Pak,” jawab karyawan itu. “Tahu alamat agen
pluit?” tanya Dahlan. “Tahu Pak,” jawab karyawan itu. “Bisa antar kita
ke Agen Wangi?” tanya Dahlan. “Bisa,” jawab karyawan itu dengan
mantapnya.
Akhirnya bertiga kami berangkat ke Pluit, naik mobil
Mercy E280 milik Dahlan. Saya yang menyetir. Karyawan pemasaran itu
duduk di samping saya. Sementara Dahlan di duduk di bangku belakang.
“Tunjukkan di mana alamat Agen Wangi,” kata Dahlan kepada karyawan
tersebut. “JTO, ikuti saja instruksinya,” kata Dahlan.
Meski
alamatnya jelas, karyawan itu tidak berhasil mengarahkan mobil ke alamat
Pak Muha. Saya lihat, karyawan itu tampak pucat dan gelisah. Akhirnya,
setelah lelah berputar-putar, Dahlan mengajak kembali ke Graha Pena.
Dahlan tidak berkomentar sama sekali sepanjang perjalanan.
Keesokan harinya, Dahlan kembali mencari karyawan itu di ruangannya.
Tetapi hingga sore, tidak ada batang hidungnya. Hanya sepucuk surat yang
dia titipkan melalui karyawan. Isinya, “Saya mengundurkan diri. Saya
malu dengan Pak Dahlan.”
Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi
follow me @intartojoko
No comments:
Post a Comment