Monday, February 25, 2013

Menilai Kinerja Dahlan Iskan

Menilai Kinerja Dahlan Iskan

Dahlan Iskan Bersama BUMN

Sejak lama BUMN kita menjadi sapi perasan bagi kekuasaan, dan sudah puluhan tahun kultur BUMN adalah kultur birokrasi yang amat kental struktur kekuasaannya ketimbang persaingan usaha, padahal BUMN dibentuk pemerintah sebagai sebuah usaha negara untuk masuk mengambil keuntungan-keuntungan dengan sistem profesional dan hasilnya disalurkan ke dalam akumulasi kekayaan negara, namun BUMN dijadikan sarang feodal baru, direksi-direksi BUMN kerap menjadi raja kecil ketimbang profesional yang menggulung lengan bajunya berpikir bagaimana BUMN berkembang cepat menguntungkan.

BUMN Perhotelan hancur lebur, padahal BUMN ini sudah bergerak di jaman Bung Karno, mustinya seluruh jaringan perhotelan di Indonesia dikuasai oleh BUMN, karena BUMN Perhotelan memiliki start up capital yang tinggi. Hampir seluruh BUMN Indonesia mendekati situasi kolaps, yang besar-besar adalah BUMN bidang keuangan dan jasa perbankan.

Dahlan masuk ke dalam situasi dimana BUMN tidak memiliki harapan ke depan, awalnya ia direcoki oleh tuduhan-tuduhan ala Trio Macan : ada beberapa penggede politik yang terusik dengan kemampuan Dahlan Iskan membuat gebrakan dan populer di masyarakat lalu opini dibangun untuk menyerang Dahlan, tapi Dahlan Iskan menolak mundur dan kalah, bahkan ketika beberapa dedengkot anggota DPR mengatakan Dahlan Iskan gila, Dahlan malah senang "Saya buktikan bahwa orang gila mampu membuat maju negara" kata Dahlan Iskan dengan mata menyala-nyala.

Yang dilakukan Dahlan Iskan dalam merestrukturisasi BUMN bukan melakukan guyuran modal dengan menodong negara, bukan melakukan tindakan-tindakan perombakan organisasi, tapi dia menggiring ke arah situasi abstrak, Dahlan membangun situasi emosional dimana BUMN-BUMN diharuskan masuk ke dalam situasi itu, ia mengenalkan apa yang disebut 'Manufacturing Hope'. 'Mengindustrialisasikan Harapan'. Seperti pepatah Jerman : Manusia boleh kehilangan apa saja, kecuali harapan... Harapan adalah hal yang terindah dalam hidup manusia. Yang membangun kemanusiaan, yang membangun kehidupan adalah harapan. Situasi emosional ini dibangun kembali Dahlan, dengan menciptakan titik nol BUMN yaitu : Harapan.

Di bidang Industri Dirgantara Dahlan Iskan menggebrak kontrak dengan nilai 7 trilyun, di bidang PLN Dahlan terus mendesak penggunaan gas dan manajemen penggunaan gas, Dahlan Iskan juga menggeber agar seluruh rakyat kebagian listrik walaupun itu taruhannya inefisiensi, di industri pupuk Dahlan Iskan memberlakukan sistem rayonisasi yang menghindari spekulan menimbun pupuk dan tiap pabrik pupuk harus memenuhi tanggung jawab wilayahnya, seluruh perusahaan konstruksi BUMN diwajibkan bersikap profesional dalam mencari proyek, BUMN konstruksi digedor menjadi yang terdepan dalam urusan infrastruktur nggak ada boleh sogok-sogokan lagi, Direksi BUMN yang mau maen kayak di Hambalang ditendang keras-keras keluar, Dahlan menyeret industri pembuatan kapal maju, PT PAL dikembalikan ke khittahnya membuat kapal tempur, PT PELNI diubah Dahlan bukan lagi yang utama mengangkut manusia tapi dibentuk sebagai pembentuk jaringan dagang dimana pedagang-pedagang kecil mengangkut barang antar pulau, PT Pindad terus digebrak untuk memproduksi senjata.

BUMN-BUMN yang kolaps dipancing bangun, "Saya tidak akan memberikan guyuran duit ke BUMN, karena kekurangan modal kerja itu kambing hitam yang enak, bisa diguling dan dibakar..." Bagi Dahlan Iskan soal perusahaan harus dievaluasi dulu, jangan kalo kerusakannya di struktur manajemen diguyur modal ini sama saja bunuh diri.

Kekuatan terbesar BUMN adalah membentuk sindikasi diantara sesama BUMN, sebagai misal soal Rumah Sakit Buruh... Dahlan Iskan memerintahkan semua BUMN bergerak, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) menyediakan tanah, PT Nindya Karya yang membangun, PT Jamsostek yang menyediakan dana. Agustus 2013 nanti kaum Buruh punya Rumah Sakitnya sendiri.

Untuk BUMN IPO Dahlan Iskan juga nggak mau ada kasus Garuda, IPO diguyur ke publik harus sesuai dengan kebutuhannya, Penyertaan modal publik hanya 20% tapi dengan itu Perusahaan menjadi terbuka, menjadi akuntabel dan berdaya saing tinggi, Perusahaan yang Go Publik dibawa jauh loncat ke depan.

Manufacturing Hope adalah sebuah ide, kemanusiaan dilecut daya kerjanya, dibangunkan mimpinya lalu digerakkan tangannya. Terbukti hanya dua tahun BUMN dibawah Dahlan Iskan seluruh geliat BUMN terasa, kepercayaan publik meningkat dan kerja bukanlah soal omong depan publik tanpa hasil. Dahlan membuktikan bahwa harapan yang terealisir-lah yang kemudian membentuk reputasi.........

(Anton DH Nugrahanto).

No comments:

Post a Comment