Menilai Kinerja Dahlan Iskan
Menilai Kinerja Dahlan Iskan
Dahlan Iskan Bersama BUMN
Sejak lama BUMN kita menjadi sapi perasan bagi kekuasaan, dan sudah
puluhan tahun kultur BUMN adalah kultur birokrasi yang amat kental
struktur kekuasaannya ketimbang persaingan usaha, padahal BUMN dibentuk
pemerintah sebagai sebuah usaha negara untuk masuk mengambil
keuntungan-keuntungan dengan sistem profesional dan hasilnya disalurkan
ke dalam akumulasi kekayaan negara, namun BUMN dijadikan sarang feodal
baru, direksi-direksi BUMN kerap menjadi raja kecil ketimbang
profesional yang menggulung lengan bajunya berpikir bagaimana BUMN
berkembang cepat menguntungkan.
BUMN Perhotelan hancur lebur,
padahal BUMN ini sudah bergerak di jaman Bung Karno, mustinya seluruh
jaringan perhotelan di Indonesia dikuasai oleh BUMN, karena BUMN
Perhotelan memiliki start up capital yang tinggi. Hampir seluruh BUMN
Indonesia mendekati situasi kolaps, yang besar-besar adalah BUMN bidang
keuangan dan jasa perbankan.
Dahlan masuk ke dalam situasi
dimana BUMN tidak memiliki harapan ke depan, awalnya ia direcoki oleh
tuduhan-tuduhan ala Trio Macan : ada beberapa penggede politik yang
terusik dengan kemampuan Dahlan Iskan membuat gebrakan dan populer di
masyarakat lalu opini dibangun untuk menyerang Dahlan, tapi Dahlan Iskan
menolak mundur dan kalah, bahkan ketika beberapa dedengkot anggota DPR
mengatakan Dahlan Iskan gila, Dahlan malah senang "Saya buktikan bahwa
orang gila mampu membuat maju negara" kata Dahlan Iskan dengan mata
menyala-nyala.
Yang dilakukan Dahlan Iskan dalam
merestrukturisasi BUMN bukan melakukan guyuran modal dengan menodong
negara, bukan melakukan tindakan-tindakan perombakan organisasi, tapi
dia menggiring ke arah situasi abstrak, Dahlan membangun situasi
emosional dimana BUMN-BUMN diharuskan masuk ke dalam situasi itu, ia
mengenalkan apa yang disebut 'Manufacturing Hope'.
'Mengindustrialisasikan Harapan'. Seperti pepatah Jerman : Manusia boleh
kehilangan apa saja, kecuali harapan... Harapan adalah hal yang
terindah dalam hidup manusia. Yang membangun kemanusiaan, yang membangun
kehidupan adalah harapan. Situasi emosional ini dibangun kembali
Dahlan, dengan menciptakan titik nol BUMN yaitu : Harapan.
Di
bidang Industri Dirgantara Dahlan Iskan menggebrak kontrak dengan nilai 7
trilyun, di bidang PLN Dahlan terus mendesak penggunaan gas dan
manajemen penggunaan gas, Dahlan Iskan juga menggeber agar seluruh
rakyat kebagian listrik walaupun itu taruhannya inefisiensi, di industri
pupuk Dahlan Iskan memberlakukan sistem rayonisasi yang menghindari
spekulan menimbun pupuk dan tiap pabrik pupuk harus memenuhi tanggung
jawab wilayahnya, seluruh perusahaan konstruksi BUMN diwajibkan bersikap
profesional dalam mencari proyek, BUMN konstruksi digedor menjadi yang
terdepan dalam urusan infrastruktur nggak ada boleh sogok-sogokan lagi,
Direksi BUMN yang mau maen kayak di Hambalang ditendang keras-keras
keluar, Dahlan menyeret industri pembuatan kapal maju, PT PAL
dikembalikan ke khittahnya membuat kapal tempur, PT PELNI diubah Dahlan
bukan lagi yang utama mengangkut manusia tapi dibentuk sebagai pembentuk
jaringan dagang dimana pedagang-pedagang kecil mengangkut barang antar
pulau, PT Pindad terus digebrak untuk memproduksi senjata.
BUMN-BUMN yang kolaps dipancing bangun, "Saya tidak akan memberikan
guyuran duit ke BUMN, karena kekurangan modal kerja itu kambing hitam
yang enak, bisa diguling dan dibakar..." Bagi Dahlan Iskan soal
perusahaan harus dievaluasi dulu, jangan kalo kerusakannya di struktur
manajemen diguyur modal ini sama saja bunuh diri.
Kekuatan
terbesar BUMN adalah membentuk sindikasi diantara sesama BUMN, sebagai
misal soal Rumah Sakit Buruh... Dahlan Iskan memerintahkan semua BUMN
bergerak, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) menyediakan tanah, PT
Nindya Karya yang membangun, PT Jamsostek yang menyediakan dana. Agustus
2013 nanti kaum Buruh punya Rumah Sakitnya sendiri.
Untuk BUMN
IPO Dahlan Iskan juga nggak mau ada kasus Garuda, IPO diguyur ke publik
harus sesuai dengan kebutuhannya, Penyertaan modal publik hanya 20%
tapi dengan itu Perusahaan menjadi terbuka, menjadi akuntabel dan
berdaya saing tinggi, Perusahaan yang Go Publik dibawa jauh loncat ke
depan.
Manufacturing Hope adalah sebuah ide, kemanusiaan
dilecut daya kerjanya, dibangunkan mimpinya lalu digerakkan tangannya.
Terbukti hanya dua tahun BUMN dibawah Dahlan Iskan seluruh geliat BUMN
terasa, kepercayaan publik meningkat dan kerja bukanlah soal omong depan
publik tanpa hasil. Dahlan membuktikan bahwa harapan yang
terealisir-lah yang kemudian membentuk reputasi.........
(Anton DH Nugrahanto).
No comments:
Post a Comment